Minggu, 08 Oktober 2017

makalah unsur hara

BAB 1
PENDAHULUAN


  1.1            Latar Belakang
Semua tanaman memerlukan makanan yang diaantaranya  berupa unsur  hara mineral yang sama dan berbagai unsur untuk menghasilkan tujuan akhir yang sama. Tumbuhan membutuhkan berbagai macam unsur karena digunakan untuk bahan pembangun tubuhnya, sekitar 15-20% tumbuhan tak berkayu terdiri dari berbagai unsur itu dan sisanya adalah air.
      Tanaman merupakan suatu tumbuhan yang di kelola manusia yang berguna untuk mengambil hasil atau sering juga disebut budidaya pertanian. Dalam kegiatan budidaya tanaman, sangat rentang sekali terhadap beberapa faktor-faktor yang sangat sensitif di antaranya adalah adalah unsur hara, iklim, tanaman dll. Di antara aspek-aspek yang di sebutkan yang perlu di perhatikan adalah ketersedian unsur hara di dalam media tanam.
          Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah.
         Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan tanaman yaitu air, udara dan unsur hara. Tembaga (Cu), seng (Zn), besi (Fe) dan mangan (Mn) merupakan beberapa contoh unsur hara mikro yang esensial bagi tanaman karena walaupun diperlukan dalam jumlah relatif sedikit tetapi sangat besar peranannya dalam metabolisme di dalam tanaman.

  1.2            Rumusan Masalah
1.   Apa yang dimaksud unsur hara pada tanaman?
2.   Bagaimana pengaruh unsur hara, air  dan vitamin bagi tumbuhan?
3.   Apa saja unsur hara dan vitamin yang dibutuhkan oleh tumbuhan?

  1.3            Tujuan
1.   Untuk mengetahui pengertian unsur hara pada tanaman
2.   Untuk mengetahui pengaruh unsur hara, air  dan vitamin bagi tumbuhan
3.   Untuk mengetahi pengaruh unsur hara, air  dan vitamin bagi tumbuhan



BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
            Unsur hara adalah sumber nutrisi atau makanan yang dibutuhkan tanaman, baik tersedia di alam (organik) maupun yang sengaja ditambahkan, seperti halnya makhluk hidup lainnya, tanaman memerlukan nutrisi lengkap dalam kelangsungan pertumbuhannya. Unsur hara dibedakan menjadi dua, yaitu unsur mikro dan makro. Unsur hara mikro adalah Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil sedangkan unsur hara makro adalah Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar. Unsur hara mikro dan makro tersebut termasuk unsur hara esensial diantaranya Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl).
Unsur hara tersebut tergolong unsur hara Essensial.

2.2 Macam-macam unsur hara dan pengaruhnya
a.       Unsur mikro
A. Besi (Fe)
Besi (Fe) merupakan unsure mikro yang diserap dalam bentuk ion feri (Fe3+) ataupun fero (Fe2+). Fe dapat diserap dalam bentuk khelat (ikatan logam dengan bahan organik). Mineral Fe antara lain olivin (Mg, Fe)2SiO, pirit, siderit (FeCO3), gutit (FeOOH), magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3) dan ilmenit (FeTiO3) Besi dapat juga diserap dalam bentuk khelat, sehingga pupuk Fe dibuat dalam bentuk khelat. Khelat Fe yang biasa digunakan adalah Fe-EDTA, Fe-DTPA dan khelat yang lain. Fe dalam tanaman sekitar 80% yang terdapat dalam kloroplas atau sitoplasma. Penyerapan Fe lewat daundianggap lebih cepat dibandingkan dengan penyerapan lewat akar, terutama pada tanaman yang mengalami defisiensi Fe. Dengan demikian pemupukan lewat daun sering diduga lebih ekonomis dan efisien. Fungsi Fe antara lain sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan berperanan dalam perkembangan kloroplas. Sitokrom merupakan enzim yang mengandung Fe porfirin. Kerja katalase dan peroksidase digambarkan secara ringkas sebagai berikut:
a. Catalase : H2O + H2O  O2 + 2H2O
b. Peroksidase : AH2 + H2O  A + H2O
Fungsi lain Fe ialah sebagai pelaksana pemindahan electron dalam proses metabolisme. Proses tersebut misalnya reduksi N2, reduktase solfat, reduktase nitrat. Kekurangan Fe  menyebabakan terhambatnya pembentukan klorofil dan akhirnya juga penyusunan protein menjadi tidak sempurna Defisiensi Fe menyebabkan kenaikan kaadar asam amino pada daun dan penurunan jumlah ribosom secara drastic. Penurunan kadar pigmen dan protein dapat disebabkan oleh kekurangan Fe. Juga akan mengakibatkan pengurangan aktivitas semua enzim.

B. Mangaan (Mn)
Mangaan diserap dalam bentuk ion Mn++. Seperti hara mikro lainnya, Mn dianggap dapat diserap dalam bentuk kompleks khelat dan pemupukan Mn sering disemprotkan lewat daun. Mn dalam tanaman tidak dapat bergerak atau beralih tempat dari logam yang satu ke organ lain yang membutuhkan. Mangaan terdapat dalam tanah berbentuk senyawa oksida, karbonat dan silikat dengan nama pyrolusit (MnO2), manganit (MnO(OH)), rhodochrosit (MnCO3) dan rhodoinit (MnSiO3). Mn umumnya terdapat dalam batuan primer, terutama dalam bahan ferro magnesium. Mn dilepaskan dari batuan karena proses pelapukan batuan. Hasil pelapukan batuan adalah mineral sekunder terutama pyrolusit (MnO2) dan manganit (MnO(OH)). Kadar Mn dalam tanah berkisar antara 300 smpai 2000 ppm. Bentuk Mn dapat berupa kation Mn++ atau mangan oksida, baik bervalensi dua maupun valensi empat. Penggenangan dan pengeringan yang berarti reduksi dan oksidasi pada tanah berpengaruh terhadap valensi Mn.
Mn merupakan penyusun ribosom dan juga mengaktifkan polimerase, sintesis protein, karbohidrat. Berperan sebagai activator bagi sejumlah enzim utama dalam siklus krebs, dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang normal dalam kloroplas,ada indikasi  dibutuhkan dalam sintesis klorofil. Defisiensi unsure Mn antara lain : pada tanaman
berdaun lebar, interveinal chlorosis pada daun muda mirip kekahatan Fe tapi lebih banyak menyebar sampai ke daun yang lebih tua, pada serealia bercak-bercak warna keabu-abuan sampai kecoklatan dan garis-garis pada bagian tengah dan pangkal daun muda, split seed pada tanaman lupin.

C. Seng (Zn)
Zn diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn++ dan dalam tanah alkalis mungkin diserap dalam bentuk monovalen Zn(OH)+. Di samping itu, Zn diserap dalm bentuk kompleks khelat, misalnya Zn-EDTA. Seperti unsure mikro lain, Zn dapat diserap lewat daun. Kadr Zn dalam tanah berkisar antara 16-300 ppm, sedangkan kadar Zn dalam tanaman berkisar antara 20-70 ppm. Mineral Zn yang ada dalam tanah antara lain sulfida (ZnS), spalerit [(ZnFe)S], smithzonte (ZnCO3), zinkit (ZnO), wellemit (ZnSiO3 dan ZnSiO4). Fungsi Zn antara lain : pengaktif enim anolase, aldolase, asam oksalat dekarboksilase, lesitimase,sistein desulfihidrase, histidin deaminase, super okside demutase (SOD), dehidrogenase, karbon anhidrase, proteinase dan peptidase. Juga berperan dalam biosintesis auxin, pemanjangan sel dan ruas batang.
Ketersediaan Zn menurun dengan naiknya pH, pengapuran yang berlebihan sering menyebabkan ketersediaaan Zn menurun. Tanah yang mempunyai pH tinggi sering menunjukkan adanya gejala defisiensi Zn, terytama pada tanah berkapur.
Adapun gejala defisiensi Zn antara lain : tanaman kerdil, ruas-ruas batang memendek, daun mengecil dan mengumpul (resetting) dan klorosis pada daun-daun muda dan intermedier serta adanya nekrosis.

D. Tembaga (Cu)
Tembaga (Cu) diserap dalam bentuk ion Cu++ dan mungkin dapat diserap dalam bentuk senyaewa kompleks organik, misalnya Cu-EDTA (Cu-ethilen diamine tetra acetate acid) dan Cu-DTPA (Cu diethilen triamine penta acetate acid). Dalam getah tanaman bik dalam xylem maupun floem hampir semua Cu membentuk kompleks senyawa dengan asam amino. Cu dalam akar tanaman dan dalam xylem > 99% dalam bentuk kompleks.
Dalam tanah, Cu berbentuk senyawa dengan S, O, CO3 dan SiO4 misalnya kalkosit (Cu2S), kovelit (CuS), kalkopirit (CuFeS2), borinit (Cu5FeS4), luvigit (Cu3AsS4), tetrahidrit [(Cu,Fe)12SO4S3)], kufirit (Cu2O), sinorit (CuO), malasit [Cu2(OH)2CO3], adirit [(Cu3(OH)2(CO3)], brosanit [Cu4(OH)6SO4].
Kebanyakan Cu terdapat dalam kloroplas (>50%) dan diikat oleh plastosianin. Senyawa ini mempunyai berat molekul sekitar 10.000 dan masing-masing molekul mengandung satu atom Cu. Hara mikro Cu berpengaruh pafda klorofil, karotenoid, plastokuinon dan plastosianin.
Fungsi dan peranan Cu antara lain : mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbit-oksidase, asam butirat-fenolase dan laktase. Berperan dalam metabolisme protein dan karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generatif, berperan terhadap fiksasi N secara simbiotis dan penyusunan lignin.Adapun gejala defisiensi / kekurangan Cu antara lain : pembungaan dan pembuahan terganggu, warna daun muda kuning dan kerdil, daun-daun lemah, layu dan pucuk mongering serta batang dan tangkai daun lemah.

E. Molibden (Mo)
Molibden diserap dalam bentuk ion MoO4-. Variasi antara titik kritik dengan toksis relatif besar. Bila tanaman terlalu tinggi, selain toksis bagi tanaman juga berbahaya bagi hewan yang memakannya. Hal ini agak berbeda dengan sifat hara mikro yang lain. Pada daun kapas, kadar Mo sering sekitar 1500 ppm. Umumnya tanah mineral cukup mengandung  Mo. Mineral lempung yang terdapat di dalam tanah antara lain molibderit (MoS), powellit (CaMo)3.8H2O. Molibdenum (Mo) dalam larutan sebagai kation ataupun anion. Pada tanah gambut atau tanah organik sering terlihat adanya gejala defisiensi Mo. Walaupun demikian dengan senyawa organik Mo membentuk senyawa khelat yang melindungi Mo dari pencucian air. Tanah yang disawahkan menyebabkan kenaikan ketersediaan Mo dalam tanah. Hal ini disebabkan karena dilepaskannya Mo dari ikatan Fe (III) oksida menjadi Fe (II) oksida hidrat.
Fungsi Mo dalam tanaman adalah mengaktifkan enzim nitrogenase, nitrat reduktase dan xantine oksidase. Gejala yang timbul karena kekurangan Mo hampir menyerupai kekurangan N. Kekurangan Mo dapat menghambat pertumbuhan tanaman, daun menjadi pucat dan mati dan pembentukan bunga terlambat. Gejala defisiensi Mo dimulai dari daun tengah dan daun bawah. Daun menjadi kering kelayuan, tepi daun  menggulung dan daun umumnya sempit. Bila defisiensi berat, maka lamina hanya terbentuk sedikit sehingga kelihatan tulang-tulang daun lebih dominan.
F. Boron (B)
Boron dalam tanah terutama sebagai asam borat (H2BO3) dan kadarnya berkisar antara 7-80 ppm. Boron dalam tanah umumnya berupa ion borat hidrat B(OH)4-. Boron yang tersedia untuk tanaman hanya sekitar 5%dari kadar total boron dalam tanah. Boron ditransportasikan dari larutan tanah ke akar tanaman melalui proses aliran masa dan difusi. Selain itu, boron sering terdapat dalam bentuk senyawa organik. Boron juga banyak terjerap dalam kisi mineral lempung melalui proses substitusi isomorfik dengan Al3+ dan atau Si4+. Mineral dalam tanah yang mengandung boron antara lain turmalin (H2MgNaAl3(BO)2Si4O2)O20 yang mengandung 3%-4% boron. Mineral tersebut terbentuk dari batuan asam dan sedimen yang telah mengalami metomorfosis.
Mineral lain yang mengandung boron adalah kernit (Na2B4O7.4H2O), kolamit (Ca2B6O11.5H2O), uleksit (NaCaB5O9.8H2O) dan aksinat. Boron diikat kuat oleh mineral tanah, terutama seskuioksida (Al2O3 + Fe2O3).
Fungsi boron dalam tanaman antara lain berperanan dalam metabolisme asam nukleat, karbohidrat, protein, fenol dan auksin. Di samping itu boron juga berperan dalam pembelahan, pemanjangan dan diferensiasi sel, permeabilitas membran, dan perkecambahan serbuk sari. Gejal defisiensi hara mikro ini antara lain : pertumbuhan terhambat pada jaringan meristematik (pucuk akar), mati pucuk (die back), mobilitas rendah, buah yang sedang berkembang sngat rentan, mudah terserang penyakit.

G.Klor(Cl)
Klor merupakan unsure yang diserap dalam bentuk ion Cl- oleh akar tanaman dan dapat diserap pula berupa gas atau larutan oleh bagian atas tanaman, misalnya daun. Kadar Cl dalam tanaman sekitar 2000-20.000 ppm berat tanaman kering. Kadar Cl yang terbaik pada tanaman adalah antara 340-1200 ppm dan dianggap masih dalam kisaran hara mikro. Klor dalam tanah tidak diikat oleh mineral, sehingga sangat mobil dan mudah tercuci oleh air draiinase. Sumber Cl sering berasal dari air hujan, oleh karena itu, hara Cl kebanyakan bukan menimbulkan defisiensi, tetapi justru menimbulkan masalah keracunan tanaman. Klor berfungsi sebagai pemindah hara tanaman, meningkatkan osmose sel, mencegah kehilangan air yang tidak seimbang, memperbaiki penyerapan ion lain,untuk tanaman kelapa dan kelapa sawit dianggap hara makro yang penting. Juga berperan dalam fotosistem II dari proses fotosintesis, khususnya dalam evolusi oksigen.
Adapun defisiensi klor adalh antara lain : pola percabangan akar abnormal, gejala wilting (daun lemah dan layu), warna keemasan (bronzing) pada daun, pada tanaman kol daun berbentuk mangkuk.



b.      Unsur makro
Nitrogen ( N )
Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.


c.       Phospat ( P )
Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
Merangsang pembungaan dan pembuahan
Merangsang pertumbuhan akar
Merangsang pembentukan biji
Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
anaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )
Kalium ( K )
-Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.


Kalsium (Ca)
Fungsi :
 Merangsang pembentukan bulu-bulu akar
Berperan dalam pembuatan protein atau bagian yang aktif dari tanaman
 Memperkeras batang tanaman dan sekaligus merangsang pembentukan biji
Menetralisir asam-asam organik yang dihasilkan pada saat metabolism
Kalsium yang terdapat dalam batang dan daun dapat menetralisirkan senyawa atau suasana keasaman tanah
kekurangan:
1.       Daun muda atau kuncup daun yang terpengaruh gejala mengelompok.
2.       Kuncup akhir mati terjadi setelah perubahan bentuk pada ujung atau pangkal daun muda
3.       Daun muda pada kuncup akhir mulau-mula melelngkung secara khas, akirnya mati-pucuk ,ulai dari ujung dan tepi, sehingga pertumbuhan selanjutnya dicirikan olh matinya jaringan di daerah ini; akirnya tangkai pucuk akhir mati.









Magnesium (Mn)
Magnesium merupakan bagian tanaman dari klorofil
Merupakan salah satu bagian enzim yang disebut Organic pyrophosphatse dan Carboxy peptisida
Berperan dalam pembentukan buah
Kekurangan : 
   Daun-daun tua mengalami klorosis (berubah menjadi kuning) dan tampak di antara tulang-tulang daun, sedang tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah kecoklatan
-     Daun-daun mudah terbakar oleh teriknya sinar matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut
-     Pada tanaman biji-bijian, daya tumbuh biji kurang/lemah, malah kalau toh ia tetap tumbuh maka ia akan nampak lemah sekali.


Sulfur (S)
FUNGSI :
Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar
Merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein dalam bentuk cystein, methionin serta thiamine
Membantu pertumbuhan anakan produktif
. Merupakan bagian penting pada tanaman-tanaman penghasil minyak, sayuran seperti cabai, kubis dan lain-lain
Membantu pembentukan butir hijau daun
Kekurangan sulfur :
   Daun-daun muda mengalami klorosis (berubah menjadi kuning), perubahan warna umumnya terjadi pada seluruh daun muda, kadang mengkilap keputih-putihan dan kadang-kadang perubahannya tidak merata tetapi berlangsung pada bagian daun selengkapnya
-     Perubahan warna daun dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau.
-     Tanaman tumbuh terlambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus, batang tanaman berserat, berkayu dan berdiameter kecil
-     Pada tanaman tebu yang menyebabkan rendemen gula rendah
-     Jumlah anakan terbatas.

2.3



BAB 3
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Unsur hara adalah sumber nutrisi atau makanan yang dibutuhkan tanaman, baik tersedia di alam (organik) maupun yang sengaja ditambahkan, seperti halnya makhluk hidup lainnya, tanaman memerlukan nutrisi lengkap dalam kelangsungan pertumbuhanny. Unsur hara dibagi menjadi dua mikro dan makro. Unsur hara mikro adalah adalah Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil, contohnya : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn dan Cl sedangkan unsur hara makro adalah Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak contohnya:  N, P, K ,Ca, Mg dan S

































DAFTAR PUSTAKA


Fitter.A.H dan Hay.M.K.R.1998.Fisiologi Lingkung Tanaman.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Salisbury.B Frank dan Ross W Cleon.1995.Fisiologi Tumbuhan.Bandung: ITB
Rio Ardi Blog.03/03/2009.Unsur Hara Dalam Tanah (Mikro dan Makro).15/09/2017(12.55). https://rioardi.wordpress.com/2009/03/03/unsur-hara-dalam-tanah-makro-dan-mikro/

Pustaka Negeri.01/10/2007.Khasiat Unsur Hara Bagi Tanaman.diaksaes 15/09/2017(13.05). https://pusri.wordpress.com/2007/10/01/khasiat-unsur-hara-bagi-tanaman/





makalah penyerapan air

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap tumbuhan pasti memiliki jaringan pengangkutan  yang terdiri dari xylem dan floem. Kedua jaringan tersebut berperan sangat penting bagi proses kehidupan sebuah tanaman dan berperan untuk mengambil air dari dalam tanah dan kemudian menyebarkannya ke seluruh bagian tanaman agar semua organ tanaman dapat berkembang secara maksimal. Proses ini yang dinamakan dengan transportasi pada tumbuhan
Setiap hari tumbuhan membutuhkan berbagai zat penting untuk melakukan proses metabolisme dalam tubuhnya. Adapun zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan antara lain air, garam mineral, oksigen, dan karbon dioksida yang bisa diperoleh dari luar tubuh tumbuhan. Melalui daun, tumbuhan dapat memperoleh oksigen dan karbon dioksida. Sedangkan melalui ujung akar dan buluh-buluh akar, air dan garam mineral diserap tumbuhan ke dalam tubuhnya.  Penyerapan dan pengangkutan zat ini dilakukan oleh jaringan pengangkut yang melewati berkas pembuluh.
Dalam kehidupan sehari-hari terjadi banyak hal yang berkaitan dengan tumbuhan dan air kususnya utuk penyerapan yang dilakukan melalui akar. Meskipun pada kenyataannya daun dan batang juga memiliki pengaruh yang cukup penting dalam proses penyerapan air . Proses penyerapan   air dan mineral dari dalam tanah oleh tumbuhan berawal dari air di dalam tanah yang kemudian akan diserap oleh rambut akar. Air mengalir karena ada perbedaan kepekatan (konsentrasi) cairan di antara sel. Air tanah mempunyai kepekatan larutan yang lebih encer dibandingkan dengan cairan sel sehingga air tanah dapat masuk ke rambut akar terjadi (difusi).
Selain transportasi tumbuhan juga melakukan transpirasi, yaitu pelepasan dalam bentuk uap melalui stomata. Transpirasi ini merupakan salah satu mekanisme pengaturan fisiologi pada tumbuhan yang terkait dengan berbagai kondisi yang ada di tubuhnya dan lingkungan sekitarnya. Adanya transpirasi ini menyebabkan terjadinya aliran air yang berlangsung secara imbas dari akar, batang, dan daun. Aliran air tersebut akan ikut membantu proses penyerapan dan transportasi air tanah di dalam tubuh tumbuhan.





B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses penyerapan  air pada tumbuhan?
2.      Apa saja organ tumbuhan yang berperan dalam penyerapan  air?
3.      Apa saja yang mempengaruhi proses penyerapan  air?
4.      Apa saja factor yang mempengaruhi transpirasi pada tumbuhan?
5.      Bagaimana mekanisme transpirasi pada tumbuhan?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui mekanisme penyerapan air pada tumbuhan
2.      Untuk mengeahui organ yang berperan dalam penyerapan  air
3.      Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi penyerapan air
4.      Untuk mengetahui factor yang mempengarui transpirasi pada tumbuhan
5.      Untuk mengetahi mekanisme transpirasi pada tumbuuhan


















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Mekanisme Penyerapan Air
Pemasukan air dari tanah ke dalam sel-sel akar dengan jalan difusi osmosis dan imbibisi. Berdasarkan hukum yang berlaku juga untuk zat cair dan sekalipun zat padat. Air berdifusi dari suatu larutan yang encer ke suatu larutan yang lebih pekat, atau dengan kata-kata lain air berdifusi dari daerah yang devisit-tekanan-difusinya kecil ke daerah yang defisit-tekanan-difusinya besar. Keadaan semacam ini memang kita dapati dalam larutan tanah, pada umumnya larutan tanah merupakan larutan yang konsentrasinya jauh lebih rendah daripada konsentrasi larutan yang ada dalam sel-sel akar. Hasil penyelidikan menunjukan bahwa nilai osmosis sel-sel suatu tanaman itu mengalami perubahan sesuai dengan keadaan air di dalam tanah. Pada umumnya terdapat hubungan timbal balik semacam ini. Jika tanah cukup mengandung air maka nilai osmosis sel-sel suatu tanaman tidak demikian tingginya daripada kalau tanah agak kekurangan air. Jadi cukup air di dalam tanah menurunkan nilai osmosis, sedangkan kurang air menaikkan nilai osmosis sel-sel suatu tanaman, bahkan nilai osmosis suatu sel pada siang hari itu berbeda dengan nilai osmosisnya pada malam hari. Hal ini sesuai dengan keadaan air pada siang hari dan pada malam hari.
Dengan masuknya air dari tanah kedalam sel-sel akar tentulah terbawa juga ion-ion yang terdapat di dalam tanah, karena larutan tanah memang mengandung ion-ion. Pemasukkan ion-ion dari tanah kedalam akar itu dipengaruhi oleh suatu hal yang disebut antagonisme ion yang artinya, bahwa pemasukka ion yang satu mempengaruhi, bahkan kadang-kadang menetang pemasukkan-pemasukkan ion jenis lain. Sebagai misal ion-ion Ca²+ meniadakan ion-ion Na+ terhadap kegiatan masuk keluarnya zat tertentu. Konsentrasi ion-ion Na+ yang agak tinggi menghambat peresapan ion-ion K+ atau ion-ion Ca²+.
Adanya suatu kenyataan baha kation-kation sangan mempengaruhi permeabilitas sel. Hal ini menimbulkan persangkaan, bahwa pada sel ada bagian-bagian tertentu (mungkin sekali ektoplas) yang mudah berubah menjadi anion; kiranya lapisan itu terdiri dari atas pospolipida, sebab zat ini mudah benar mengalami disosiasi dan sebagai hasil disosiasi ini timbullah anion-anion organik.`






Penyerapan air dapat diserap melalui akar tetapi ada pula tumbuhan yang mampu menyerap air lewat daun dan batang. Penyerapan air oleh akar akan dilakukan terutama oleh bulu akar yang selalu terendam di tanah. Air bedifusi masuk ke bulu akar, pada dinding sel masuk ruang bebas, melewati membran plasma secara osmosis dan kembali bedifusi memasuki plasma. Organela dibatasi oleh membran yang diferensial permeabel, maka transport air diantaranya harus menggunakan mekanisme osmosis. Sel akar dapat menyerap air bila mempunyai potensial air yang negatif lebih besar daripada larutan tanah. Dalam hal ini akar dapat melakukan penyerapan pasif dengan menyetimbangkan tenaga potensial air, potensial osmotik (tekanan osmotik), tekanan turgor dan tekanan dinding sel. Air bergerak ke dalam tumbuhan melalui rambut akar, yang merupakan tonjolan berupa rambut dari sel epidermis, dan melalui epidermis akar muda. Mekanisme yang beroperan bagi gerakan air tanah kedalam akar belum dipahami sepenuhnya. Pada saat ini diduga bahawa air diabsorpsi melalui dua mekanisme yang berbeda, yaitu Absorbsi Aktif dan Absorbsi Pasif.

a.       Absorbsi Aktif
Absorbsi aktif harus dibedakan dari transport aktif seyawa-senyawa yang terlarut melalui membran. Absorpsi aktif terjadi bilamana kelembaban tanah itu tinggi dan tumbuhan melangsungkan transpirasi yang rendah. Dalam kondisi ini, absorbsi air dinyatakan terutama akibat osmosis, walaupun mekanisme lain mungkin ikut terlibat. Gerakan air kedalam tergantung pada konsentrasi solut yang lebih tinggi di dalam pembuluh xilem yang mati dibandingkan dengan yang ada dalam larutan tanah.  Gerakan tersebut dikenal sebagai absorbsi aktif karena bergantung pada kandungan solut dan ketetapan (permeabilitas) sel-sel akar hidup.

b.      Absorbsi Pasif
Bila gerakan air ke dalam tumbuhan yang mempunyai laju transpirasi yang tinggi, menyangkut perbedaan tekanan di dalam dan di luar tumbuhan, maka kondisi ini dinamakan absorbsi pasif karena gaya penyebabnya timbul pada puncak tumbuhan bukan dalam akar. Absorbsi pasif bergantung pada tarikan transpirasi. Ditinjau dari volume air yang diabsorbsi, absorbsi pasif jauh lebih penting daripada absorbsi aktif, dan boleh jadi mencakup sekitar 98 % dari jumlah gerakan air ke dalam akar. Bila tumbuhan mengalami tanspirasi yang tinggi, pengambilan air berlangsung melalui absorbsi pasif. Pada konsisi tersebut, absorbsi aktif tidak berfungsi karena gerakan air yang cepat  melalui akar akan menghanyutkan solut yang menentukan dalam absorbsi aktif.
          Selain penyerapan air oleh akar, tumbuhan melakukan penyerapan air melalui daun dan batang meskipun jarang terjadi. Penyerapan air oleh daun pada tumbuhan dipengaruhi oleh:

1.      Struktur dan permeabilitas epidermis dan kutikula.
2.      Ada tidaknya trikoma di permukaan daun.
3.      Mudah tidaknya permukaan daun itu dibasahi
4.      Defisiensi air di dalam sel-sel parenkim daun.

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Air pada Tumbuhan

Faktor-Faktor yang memperngaruhi penyerapan air pada tumbuhan dipengaruhi oleh factor luar dan factor dalam yaitu :
a.       Faktor dalam (disebut juga faktor tumbuhan) yaitu:
1.      Kecepatan Transpirasi
Penyerapan air hampir setara dengan transpirasi (penguapan lewat daun) bila penyediaan air tanah cukup. Hal itu terjadi karena adanya transpirasi menyebabkan terbentuknya daya isap daun sebagai akibat kohesi yang diteruskan lewat sistem hidrostatik pada xilem. Kecepatan transpirasi antara lain ditentukan oleh banyaknya stomata dan keaadan permukaan daun.

2.   Sistem Perakaran
Berbagai tumbuhan menunjukan perakaran yang berbeda, baik pada pertumbuhan maupun kemampuannya menembus tanah. Karena penyerapan terutama berlangsung di bulu akar yang terutama terjadi akibat percabangan akar, menentukan penyerapan. Tumbuhan yang mempunyai akar dengan percabangan banyak tetapi hanya meliputi daerah perakaran yang sempit disebut mempunyai perakaran intensif. Sebaliknya yang akarnya sedikit tetapi tumbuh memanjang dan masuk jauh kedalam tanah disebut perakaran ekstensif.

3.   Pertumbuan Pucuk
Bila bagian pucuk tumbuh baik, akan memerlukan banyak air   menyebabkan daya serap bertambah.

4.   Metabolisme
Karena penyerapan memerlukan tenaga metabolisme, maka kecepatan metabolisme terutama respirasi akan menentukan besarnya penyerapan. Metabolisme yang baik juga memungkinkan pertumbuhan akar yang lebih baik, sehingga semakin banyak cabang akar / bulu akar yang terbentuk.

b.    Faktor luar yaitu:
1.      Ketersediaan air tanah
Tumbuhan dapat menyerap air tanah bila kandungan air tanah terletak antara kapasitas lapang dan titik layu tetap. Bila air berada pada keadaan diatas kapaistas lapang, penyerapan akan terhambat karena akar berada dalam lingkungan anaerob.

2.   Konsentrasi / potensial osmotik air tanah
Karena kedalam air tanah terlarut berbagai ion dan molekul maka potensial osmotiknya kan berubah bila yang larut berkurang atau bertambah. Bila ion atau molekul yang larut terlalu banyak sehingga potensial osmotiknya terlalu tinggi, sel tidak akan mampu menyerap, atau kalau mampu perlu menggunakan energi lebih besar. Tumbuhan halofit mampu menyerap air dari larutan dengan potensial osmotik yang lebih besar dari tumbuhan msofit.

3.   Temperatur tanah
Temperatur tanah berpengaruh terhadap penyerapan melalu berbagai cara, yaitu bila temperatur rendah, air menjadi lebih kental sehingga lebih sukar bergerak, permeabilitas plasma berkurang dan pertumbuhan akar terhambat.



4.  Aerasi
Aerasi yang tidak baik menghambat metabolisme dan pertumbuhan akar. Kurangnya oksigen akan menghambat respirasi aerob sehingga energi untuk penyerapan berkurang. Bila respirasi anaerob terjadi, hasil akhir berupa alkohol yang dapat melarutkan lipoprotein membran plasma sehingga akar busuk. Aerasi yang jelek juga menyebabkan kadar CO2 naik dan permeabilitas akar terhadap air berkurang.


C.    Pemenuhan Kebutuhan Air pada Tumbuhan
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak terlepas dari gangguan lain. Pada pemenuhan tanaman terhadap kebutuhan air seringkali terhambat akibat kebutuhan air pada tanaman tidak terpenuhi. Adanya gangguan tersebut dapat dilakukan penanganan dengan cara memberikan penyiraman bedasarkan 5 fase tumbuh suatu tanaman yaitu fase tumbuhan suatu tanaman yaitu fase pertumbuhan awal (selama 15-25 hari), fase vegetatif (25-40 hari), fase pembungaan (15-20 hari), fase pengisian biji (35-45 hari), pemberian penyiraman pada kondisi yang optimal dan fase pematangan (10-25 hari) dan frekuensi penyiraman yang tepat.


D.    Akibat Kekurangan dan Kelebihan Air (Overwatering) Bagi Tumbuhan

Jika tanaman mengalami penyerapan air yang terlalu banyak maka akan menyebabkan overwatering, yang sering terjadi pada tanaman ketika di musim hujan. Overwatering sering terjadi pada tanaman anggrek yang hanya dibawah naungan paranet, meskipun anggrek membutuhkan kelembaban, namun kebutuhan air harus terkontrol dengan baik.

Untuk menghindari kelebihan penyerapan air oleh tumbuhan perlunya penyiraman yang terkontrol dan  diperhatikan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi penyiraman, karena dampak dari kelebihan penyerapan air oleh tanaman atau overwatering berakibat fatal bagi tumbuhan. Beberapa akibat dari overwatering yang sering muncul pada tanaman yaitu:


a.     Menyebabkan top-rot, dimana membusuknya tunas-tunas atau ujung akar. Kebanyakan air atau overwatering akan membuat media tanam terlalu basah, sehingga akar-akar tanaman tidak akan dapat melakukan pernafasan dan transpirasi dengan baik, kemudian membusuk dan mati. Kebanyakan air juga akan menyebabkan daun-daun tua membusuk atau sering disebut leaf-rot.
b.    Menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur. Sehingga menyebabkan penyakit seperti bercak daun, busuk akar, busuk tunas bahkan rontoknya kuncup-kuncup bunga.
c.     Menyebabkan cepat rusaknya media tanam. Media tanam akan penuh dengan lumut, cepat hancur, membusuk dan akan mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan tanaman.
d.    Menyebabkan membusuknya akar secara keseluruhan, hal ini diitandai dengan daun tanaman yang menjadi keriput, seperti kekurangan air. Pertumbuhan tanaman didefinisikan sebagai bertambah besarnya tanaman yang diikuti oleh peningkatan berat kering. Proses pertumbuhan tanaman terdiri dari pembelahan sel, perbesaran sel dan diferensiasi sel Kekurangan air pada tanaman terjadi karena ketersediaan air dalam media tidak cukup dan transpirasi yang berlebihan atau kombinasi kedua faktor tersebut. Di lapangan walaupun di dalam tanah air cukup tersedia, tanaman dapat mengalami cekaman (kekurangan air). Hal ini terjadi jika kecepatan absorpsi tidak dapat mengimbangi kehilangan air melalui proses transpirasi.
Contoh gambar tanaman kelebihan penyerapan air
 

   Kekurangan air bagi tanaman, dapat menyebabkan terhambatnya proses fisiologis tanaman, bahkan dapat berhenti berjalan. Tanaman yang kekurangan air, akan menyebabkan kelayuan, hingga akhirnya mati. Hal tersebut disebabkan oleh jaringan-jaringannya yang tidak dapat berfungsi lagi dengan baik. Tanaman dapat mengalami cekaman (kekurangan air). Hal ini terjadi jika kecepatan absorpsi pada proses transpirasi, tidak dapat mengimbangi kehilangan air. Air sangatlah penting bagi tanaman, karena kekurangan air menyebabkan kelayuan pada tanaman. Kehilangan air dari tanaman oleh transpirasi merupakan suatu akibat yang tidak dapat dielakkan dari keperluan membuka dan menutupnya stomata untuk masuknya CO2 dan kehilangan air melalui transpirasi lebih besar melalui stomata daripada melalui kutikula. Indeks luas daun yang merupakan ukuran perkembangan tajuk, sangat peka terhadap cekaman air, yang mengakibatkan penurunan dalam pembentukan dan perluasan daun, peningkatan penuaan dan perontokan daun, atau keduanya. Perluasan daun lebih peka terhadap cekaman air daripada penutupan stomata. Selanjutnya dikatakan bahwa peningkatan penuaan daun akibat cekaman air cenderung terjadi pada daun-daun yang lebih bawah, yang paling kurang aktif dalam fotosintesis dan dalam penyediaan asimilat, sehingga kecil pengaruhnya terhadap hasil.
Contoh gambar tanaman kekurangan penyerapan air

Penutupan stomata pada kebanyakan spesies akibat kekurangan air pada daun akan mengurangi laju penyerapan CO2 pada waktu yang sama dan pada akhirnya akan mengurangi laju fotosintesis. Disamping itu penutupan stomata merupakan faktor yang sangat penting dalam perlindungan mesophyta terhadap cekaman air yang berat. Waktu antara penyebaran benih dan pemasakan dapat diperpendek atau diperpenjang tergantung pada intensitas dan waktu terjadinya cekaman air.
Kedalaman perakaran sangat berpengaruh terhadap jumlah air yang diserap. Pada umumnya tanaman dengan pengairan yang baik mempunyai sistem perakaran yang lebih panjang daripada tanaman yang tumbuh pada tempat yang kering. Rendahnya kadar air tanah akan menurunkan perpanjangan akar, kedalaman penetrasi dan diameter akar. Peningkatan pertumbuhan akar di bawah kondisi cekaman air ringan sampai sedang mungkin sangat penting dalam menyimpan persediaan air baru bagi suatu tanaman. Jadi, penting adanya irigasi yang baik, karena hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
E.     Transpirasi pada Tumbuuhan
a.       Pengertian Transpirasi
              Transpirasi adalah terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui stomata dan kutikula ke udara bebas (evaporasi). Jadi semakin cepat laju transpirasi berarti semakin cepat pengangkutan air dan zat hara terlarut, demikian pula sebaliknya. Alat untuk mengukur besarnya laju transpirasi melalui daun disebut fotometer atau transpirometer.
              Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui kutikula hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan. Air sebagian besar menguap melalui stomata, sekitar 80% air ditranspirasikan berjalan melewati stomata, sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi. Selain itu transpirasi juga terjadi melalui luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah dan akar. Tidak semua tumbuhan mengalami proses transpirasi. Sedangkan pada tumbuhan yang mengalami proses ini, transpirasi terkadang terjadi secara berlebihan sehingga mengakibatkan tumbuhan kehilangan banyak air dan lama kelamaan layu sebelum akhirnya mati
b.      Macam-Macam Transpirasi Tumbuhan
Ada tiga tanspirasi pada tumbuhan yaitu:

1.   Transpirasi Kutikula
Adalah evaporasi(penguapan) air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melalui stomata

2.   Transpirasi Stomata
Adalah Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke atmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selalu jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke atmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembab.


3.   Transpirasi Lentikuler
Lentisel adalah daerah pada kulit kayu yang berisi sel-sel yang tersusun lepas yang dikenal sebagai alat komplementer, uap air yang hilang melalui jaringan ini sebesar 0.1 % dari total transpirasi


c.       Mekanisme Transpirasi Tumbuhan
           Pada transpirasi, hal yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.
Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi.
Gambar tarnspirasi pada tumbuhan




d.      Factor yang Mempengaruhi Transpirasi Tumbuhan
Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam ataupun faktor luar, antara lain :

1.   Faktor Dalam :
a)      Stomata : jumlah per satuan luas, letak/ lokasi stomata (permukaan bawah atau atas daun, timbul/ tenggelam), waktu bukaan stomata, banyak sedikitnya stomata, bentuk stomata

b)      Daun : warna daun (kandungan klorifil daun), posisinya menghadap matahari atau tidak, besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu di permukaan daun

2.   Faktor Luar :
a)      Sinar matahari : sinar matahari menyebabkan membukanya stomata dan gelap menyebabkan tertutupnya stomata, jadi semakin tinggi intensitas sinar matahari yang diterima daun, maka kecepatan transpirasi akan semakin tinggi.

b)      Temperatur : kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun, serta menambah tekanan uap di luar daun. Tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak terbatas, maka tekanan uap tidak akan setinggi tekanan yang terkurung di dalam daun. Akibatnya, uap air akan mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas. Jadi semakin tinggi temperatur, kecepatan transpirasi akan semakin tinggi pula.

c)       Kelembaban udara : udara yang basah akan menghambat transpirasi sedangkan udara yang kering akan memperlancar transpirasi.

d)      Angin : angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air. Oleh karena itu dalam udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi.

e)      Keadaan air di dalam tanah : air di dalam tanah ialah satu-satunya sumber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman mendapatkan air yang dibutuhkannya. Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Penyerapan air dapat diserap melalui akar tetapi ada pula tumbuhan yang mampu menyerap air lewat daun dan batang. Penyerapan air oleh akar akan dilakukan terutama oleh bulu akar yang selalu terendam di tanah. Air bedifusi masuk ke bulu akar, pada dinding sel masuk ruang bebas, melewati membran plasma secara osmosis dan kembali bedifusi memasuki plasma. Organela dibatasi oleh membran yang diferensial permeabel, maka transport air diantaranya harus menggunakan mekanisme osmosis.
Mekanisme penyerapan air dibedakan menjadi dua yaitu penyerapan (absorspsi) aktif dan penyerapan (absorpsi) pasif sedangkan factor yang mempenharuhi proses penyerapan air  dibedakan menjadi dua yaitu factor dalam dan factor luar. Factor dalam terdiri dari kecepatan transpirasi, sistem perakaran pertumbuan pucuk dan metabolisme, sedangkan factor luar terdiri dari  ketersediaan air tanah, konsentrasi  potensial osmotik air tanah, temperatur tanah dan aerasi. Air sangat dibutahkan oleh tanaman tetapi harus dalam jumlah yang cukup karena jika berlebihan ataupun kekurangan memiliki dampak yang buruk bagi tanaman misalnya, kelebihan air menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur dan untuk kekurangan air dapat menyebabkan tanaman layu kemudian bisa saja  mati.
Transpirasi adalah terlepasnya air dalam bentuk uap air melalui stomata dan kutikula ke udara bebas (evaporasi). Ada tiga tanspirasi pada tumbuhan yaitu transpirasi kutikula, stomata dan lentikuler. Factor yang mempengari transpirasi ada dua yaitu factor luar dan dalam. Factor luar berupa sinar matahari, temperature, kelembaban  angina dan keadaan air dalam tanah, sedangkan factor dalam berupa stomata dan daun.






DAFTAR PUSTAKA

Chambell, Neil A, dkk. 2008. Biologi edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Dwidjoseputro. 1994. Pengantar Fisioligi Tumbuhan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Frank B Salisbury & Cleon W Ross. 1995.Fisiologi Tumbuhan Jilid Satu Sel: Air, Larutan, dan Permukaan Edisi Keempat. Bandung: ITB
Loveless, A. R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Amirah Mahmalia.04/03/2016. Pengaruh Kekurangan Air Terhadap Perkecambahan Kacang Hijau (Student Research – Science Paper – Amirah Amalia – SMP IT Aulady – 2014).18/09/2017(10.44).  ttps://amirahamalia.wordpress.com/tag/kekurangan-air/